Perbuatan Curang, Faktor dan Dampaknya

Perbuatan curang dan khianat adalah fenomena negatif yang telah sangat akut dalam perilaku masyarakat kita dewasa ini. Hingga bagi sebagian orang yang lemah jiwanya dan ‘murah’ harga dirinya, perbuatan curang telah menjadi kebiasaan yang seolah bukan lagi dianggap perbuatan dosa. Hampir dalam semua bentuk interaksi yang dilakukan oleh mereka dengan orang lain, selalu saja dibumbui dengan kecurangan, kebohongan dan khianat. Padahal, jangankan agama, seluruh manusia yang lurus fitrahnya pun, mengatakan bahwa perbuatan itu jelas buruk dan tidak terpuji.

Perbuatan curang terjadi dalam banyak bidang dan dalam bentuk yang beragam. Diantaranya:

Pemimpin yang curang

Kemimpinan, jabatan dan kedudukan sering kali disalahgunakan untuk menipu rakyat atau orang-orang yang berada dalam kepemimpinannya. Kecurangan dan sikap mensia-siakan amanah pada sebagian para pejabat sudah menjadi rahasia umum. Kasus-kasus hukum yang menimpa mereka, sudah menjadi menu informasi yang kita terima sehari-hari. Padahal perbuatan yang demikian mendapat ancaman keras dari Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Ma’qil bin Yasar al Muzani radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

ما من عبد يسترعيه الله رعية يموت يوم يموت وهو غاش لرعيته إلا حرم الله عليه الجنة

Tidaklah seorang hamba yang Allah berikan kepemimpinan atas orang lain, lalu ia mati dalam keadaan berbuat curang terhadap orang-orang yang dipimpinnya, melainkan Allah akan mengharamkan atasnya surga.” (HR Muslim)

Perbuatan curang dalam jual beli

Berbuat curang dalam jual beli berarti berbuat zalim kepada orang lain dalam urusan hartanya dan memakan harta mereka dengan cara yang batil. Walau pun hanya sedikit, harta yang didapatkan dengan jalan berbohong, menyembunyikan kecacatan, atau mengurangi timbangan adalah harta yang haram. Sudah seharusnya kita menjauhkan diri kita dari harta-harta semacam itu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat bersama rombongan para sahabat ke pasar untuk melakukan pengecekan barang-barang dagangan. Saat itu beliau melewati gundukan makanan, kemudian beliau memasukkan tangannya dan mendapati bagian dalam dari gundukan itu basah. Beliau berkata, “Apa ini wahai penjual makanan?” Ia berkata, “Bagian ini terkena air hujan wahai Rasulullah.” beliau bersabda,

أفلا جعلته فوق الطعام حتى يراه الناس! من غشنا فليس منا

Mengapa engkau tidak meletakkannya di bagian atas, agar orang yang akan membeli dapat melihatnya? Barangsiapa yang berbuat curang kepada kami, maka ia bukan bagian dari golongan kami. (HR Muslim)

Perbuatan curang dalam ilmu

Kecurangan dalam ilmu sangat berbahaya dan memiliki dampak negatif yang cukup besar. Para ulama mengatakan, tatkala seseorang mendapatkan ijazah pendidikan dengan cara yang tidak jujur, maka harta yang didapatkan dengan ijazah itu pun teranggap harta yang haram. Praktek kecurangan dalam ujian, adalah petaka yang menyedihkan dalam dunia pendidikan kita. Pendidikan yang seharusnya berada di garda depan dalam membentuk manusia-manusia yang jujur dan memiliki integritas tinggi, acap kali justru diwarnai praktek-praktek tidak terpuji seperti itu.

Perbuatan curang dalam perkataan

Perbuatan curang dalam perkataan sering terjadi dalam urusan persidangan, seperti memberi kesaksian palsu, menyampaikan informasi-informasi yang tidak sesuai dengan fakta dan hakikatnya di hadapan persidangan dengan maksud menzalimi dan merugikan orang lain.

Masih banyak wilayah dan bentuk perbuatan curang yang terjadi dalam masyarakat. Yang telah disebutkan diatas hanya beberapa contohnya saja.

Faktor-faktor perbuatan curang

Perbuatan curang memang biasanya tidak muncul begitu saja. Ada banyak faktor dan pemicu seseorang melakukan perbuatan tersebut. Diantaranya:

  1. Lemahnya iman, sedikitnya rasa takut kepada Allah dan kurangnya kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi dan menyaksikan setiap perbuatannya sekecil apa pun.
  2. Kebodohan sebagian orang tentang haramnya perbuatan curang, khususnya dalam bentuk-bentuk tertentu dan saat perbuatan tersebut sudah menjadi sistem ilegal dalam sebuah lembaga atau organisasi.
  3. Ketiadaan ikhlas (niat karena Allah) dalam melakukan aktifitas, baik dalam menuntut ilmu, berniaga dan yang lainnya.
  4. Ambisi mengumpulkan pundi-pundi harta kekayaan dengan berbagai macam cara. Yang penting untung besar, walaupun dengan menumpuk dosa-dosa yang kelak menuntut balas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan datang kepada manusia suatu zaman dimana seseorang tidak lagi mempedulikan apa yang didapatkannya, dari yang halal atau dari yang haram.” (HR Bukhari)
  5. Lemahnya pengawasan orang-orang yang berwenang untuk melakukan pengawasan terhadap orang-orang yang berada di bawah tanggungjawabnya.
  6. Tidak adanya kesungguhan. Sebagian orang bermalas-malasan menyelesaikan tugas dan apa yang menjadi kewajibannya, saat semua itu harus ia pertanggungjawabkan, maka ia pun menutupinya dengan perbuatan curang. Seperti seorang murid yang malas belajar, saat datang masa ujian, ia pun berusaha berbuat curang agar bisa lulus ujian.
  7. Berteman dengan orang-orang yang suka berbuat curang dan selalu menuruti ajakan setan untuk berbuat curang.
  8. Lemahnya pendidikan yang ditanamkan sejak kecil di rumah atau di sekolah. Sering kali orang tua atau guru tidak memberi tindakan yang tegas saat anak atau muridnya berbuat curang, atau malah justru memberi contoh dengan melakukan kecurangan dihadapan anak atau murid di sekolah.
  9. Kurang percaya diri. Saat seseorang merasa dirinya tidak mampu bersaing dengan orang lain, maka tidak jarang ia akan melakukan kecurangan untuk menutupi kekurangannya.
  10. Sikap bergantung kepada orang lain dan malas menerima tanggung jawab.
  11. Tidak qanaah dan ridho dengan pemberian Allah.
  12. Tidak adanya sistem hukum yang efektif untuk membuat jera para pelaku kecurangan.
  13. Lalai dari mengingat kematian. Ini adalah faktor penyebab seluruh perbuatan maksiat dan terus-menerus dalam melakukannya.

Dampak negatif perbuatan curang

  1. Orang yang melakukan kecurangan dan orang yang meridhainya akan mendapat dosa.
  2. Nabi berlepas diri dari pelakunya, “Barangsiapa yang mencurangi kami, maka ia bukan golongan kami.
  3. Manusia akan membenci orang yang suka berbuat curang dan tidak mau bergaul dengannya.
  4. Perbuatan curang merupakan perbuatan khianat kepada umat dan sikap mensia-siakan amanah.
  5. Perbuatan curang termasuk salah satu sifat orang-orang munafik.
  6. Perbuatan curang akan menghilangkan keberkahan.
  7. Perbuatan curang akan melemahkan kepercayaan kaum muslimin.
  8. Perbuatan curang akan menjadi faktor kegagalan masyarakat dalam semua bidang.
  9. Zalim kepada orang lain.
  10. Melemahkan pencapaian ilmu dan kemampuan
  11. Menciptakan permusuhan dan kebencian antar kaum muslimin.
  12. Mendapatkan harta haram dari cara-cara yang curang.
  13. Terjerumus pada sikap meremehkan pengawasan Allah.

Kecurangan dapat diatasi jika dalam hati masyarakat sudah tertanam dengan kuat nilai-nilai ketauhidan dan keimanan. Kesadaran selalu diawasi oleh Allah akan membuat seseorang tidak akan berani melakukan perbuatan tersebut. Pun pemahaman terhadap akibat-akibat buruk yang akan menimpa mereka kelak dari perbuatan curang harus terus ditingkatkan. Jika kesadaran ini telah terkolektif, maka insya Allah praktek-praktek kecurangan dapat dientaskan, atau sedikitnya diminimalisir.

Bagi kita yang telah menyadari perbuatan buruk tersebut, hendaknya menjauhi sahabat atau teman yang suka berbuat curang, terus berdoa kepada Allah memohon taufiq, selalu mengingat akhirat dan berusahalah melakukan amar makruf nahi munkar sesuai dengan kemampuan dalam rangka merubah keadaan masyarakat menuju yang lebih baik.

***

[Diadaptasi dari risalah berjudul “Falaisa Minnaa”, karya Abdulaziz bin Sarayan al Ushaimy, cet. Darul Qasim, Riyadh, th 2002]

Penulis: Abu Khalid Resa Gunarsa, Lc.

 

Sumber : Perbuatan Curang, Faktor dan Dampaknya

Pendidikan Anak Islami: Mendidik Anak Menjadi Manusia Biasa

Islam adalah sebuah agama yang menyeluruh, lengkap, dan melengkapi. Karena kelengkapannya, Islam tidak luput dari mengajarkan umatnya untuk mendidik anak dengan sebaik-baiknya. Apa yang harus diajarkan kepada anak-anak adalah bagaimana mereka kembali kepada fitrahnya. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (tidak mempersekutukan Allah). Maka orang tuanya-lah yang menjadikannya seorang Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi…” (HR. Bukhari).

Seringkali kita melihat di sekitar kita, banyak orang tua yang begitu bangga ketika mengetahui anaknya mendapat nilai sempurna dalam ujian pelajaran matematika di sekolahnya atau menjadi juara di kelasnya karena prestasi akademik si anak. Tetapi justru tenang-tenang saja ketika anaknya yang sudah semakin besar dan dewasa masih terbata-bata membaca Al-Quran. Padahal Allah berpesan agar kita tetap dalam fitrah kita sebagai manusia, yaitu tetap berpegang teguh pada Islam. “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Ruum: 30).

Peran besar orang tua bagi anak-anaknya adalah menjadikan anaknya tetap pada fitrahnya, yaitu tetap dalam keislamannya. Begitu banyak pesan-pesan Allah dan Rasul-Nya dalam mendidik anak. Begitupula dengan buku-buku tentang nasihat mendidik anak yang tidak jarang kita temui di berbagai toko buku di lingkungan kita.

Menarik jika kita menyimak beberapa nasehat Luqman al-Hakim kepada anak-anaknya. Hingga nasehatnya pun diabadikan oleh Allah ke dalam kitab suci Al-Quran di dalam surah yang sama dengan namanya; Luqman, surah ke-31. Luqman bukanlah seorang rasul apalagi seorang nabi, tetapi Allah menciptakan Luqman menjadi manusia yang penuh hikmah dalam setiap perbuatan dan perkataannya. Termasuk teladan dalam memberi nasehat kepada anak. Tentunya, bukan kapasitas sebagian besar dari kita untuk menjadi orang tua seperti Luqman. Akan tetapi, pastilah ada hikmah tersembunyi dari setiap ayat-ayat yang diturunkan Allah.

Adalah sangat penting bagi orang tua untuk mengajarkan banyak hal kepada anaknya. Setidaknya orang tua sering-sering memberi nasihat kepada anaknya. Agar selalu tertanam keimanan dan akhlakul karimah dalam diri si anak. Di antara pesan-pesan tersebut, selanjutnya akan dipaparkan pesan-pesan apa saja yang perlu diberikan kepada anak.

Pesan Bertauhid kepada Anak
Bagi mereka yang rajin membaca dan mengkhatamkan Al-Quran, akan sangat familiar dengan nasehat Luqman al-Hakim yang tertulis dalam Al-Quran surah Luqman. Nasehat yang pertama adalah: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Luqman: 13). Pesan pertama Luqman yang terekam dalam Al-Quran kepada anaknya adalah agar anaknya tidak mempersekutukan Allah. Sebab, kesyirikan adalah kezaliman yang sangat besar. Oleh karena itu, ketika turun ayat yang berbunyi, “Orang-orang yang beriman tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman.” (QS. Al-An’aam: 82). Maka terasa beratlah hal itu bagi para sahabat Rasulullah. Lalu mereka bertanya, “Siapakah di antara kami yang imannya tak dikotori kezaliman?” Maka Rasulullah saw menjawab, “Hal itu maknanya tidak seperti itu. Bukankah kau telah mendengar perkataan Luqman, ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.’” (Muttafaq ‘alaih).

Hal yang paling penting diajarkan kepada anak-anak adalah jangan sampai mereka mempersekutukan Allah. Karena hal ini akan mempengaruhi segala tindakan dari hidup yang dijalaninya. Ketika iman di dalam hatinya sudah tertancap kuat, secara tidak langsung akan memperbaiki akhlak serta semangatnya dalam memperjuangkan Islam. Tidak terkecuali dengan semangatnya menuntut ilmu. Itulah mengapa nasihat Luqman diawali dengan pesan untuk tidak menyekutukan Allah. Bukan mendirikan shalat dahulu, atau berakhlak baik dahulu. Karena ketauhidan adalah pengantar dari segala pendidikan. Maka nasihat Luqman kepada anaknya diawali dengan larangan berbuat syirik, baru kemudian mendirikan shalat, amar ma’ruf nahi munkar, bersabar, dan berakhlak baik.

Pesan bijak lainnya, akan kita dapatkan dari Nabi Muhammad saw. Ketika Rasul berpesan kepada sahabat sekaligus anak dari pamannya, Ibnu Abbas r.a. yang ketika itu Ibnu Abbas masih kecil dan sedang beranjak besar. Nabi bersabda, “Wahai anakku, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kata ini sebagai nasihat buatmu. Jagalah hak-hak Allah, niscaya Allah pasti akan menjagamu. Jagalah dirimu dari berbuat dosa terhadap Allah, niscaya Allah akan berada di hadapanmu. Apabila engkau menginginkan sesuatu, mintalah kepada Allah. Ketahuilah bahwa apabila seluruh umat manusia berkumpul untuk memberi manfaat padamu, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah di dalam takdirmu itu. Juga sebaliknya, apabila mereka berkumpul untuk mencelakaimu sedikitpun kecuali atas kehendak Allah. Pena telah diangkat dan lembaran takdir telah kering.” (HR. at-Tirmidzi). Dari hadis tersebut dapat kita lihat bahwa tauhid adalah kunci penting untuk membaguskan akhlak anak-anak. Betapa pentingnya tauhid, sehingga kita wajib mengajarkannya sejak dini, sebagaimana Luqman kepada anaknya, atau Nabi kepada anak pamannya. Betapa perasaan tauhid akan memunculkan muraqabah (perasaan selalu diawasi oleh Allah swt). Ketika perasaan muraqabah sudah tertanam di hatinya, maka otomatis seorang anak akan menjadi yang lebih santun, tawakkal, dan ikhlas. Mereka akan memahami dengan sendirinya, bahwa perbuatan sekecil apapun akan diawasi dan dihitung oleh Allah. Jikalau keyakinan ini kita tanamkan sejak dini, tak pelak akan lahir semangat untuk berbuat kebaikan tanpa harus mengharap pujian atau sanjungan dari orang lain.

Pesan Untuk Berbakti Kepada Orang Tua
Berbakti kepada orang tua, adalah hal yang sangat penting bagi anak-anak. Karena Allah menyejajarkan perintah berbakti kepada orang tua dengan berbakti kepada Allah. Allah berfirman: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka jangan sekali-kali kamu berkata ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Israa: 23).

Islam adalah agama yang menjunjug tinggi penghormatan kepada orang tua. Karena orang tua (ibu) yang melahirkan anaknya, kemudian berpayah-payah dalam membesarkan dan mendidik anaknya menjadi anak yang berguna bagi lingkungan sekitarnya. Jika perintah untuk tidak mempersekutukan Allah disejajarkan dengan perintah berbakti kepada orang tua, berarti menyakiti orang tua adalah sama halnya dengan menyakiti Allah. Berkata “ah” saja dilarang, apalagi sampai menghina atau melecehkan mereka.

Ketika kita membicarakan bakti kepada orang tua, kita akan akrab dengan kata birrul walidain. Birrul walidain adalah salah satu perintah Allah kepada para hamba-Nya. Birrul walidain berasal dari dua kata, birru dan al-walidain. Imam Nawawi ketika mensyarahkan Shahih Muslim memberi penjelasan, bahwa kata-kata birrumencakup makna bersikap baik, ramah dan taat yang pada umumnya tercakup dalam budi pekerti yang baik (husnul khuluq). Sedangkan walidain adalah kedua orang tua, termasuk kakek-nenek, ataupun orang tua yang sudah beperan dalam membesarkan dan mendidik anak. Secara umum, birrul walidain adalah sikap dan perbuatan baik kepada orang tua dengan memuliakannya, menghormatinya, bersikap baik, dan senantiasa memberikan pemeliharaan yang terbaik bagi orang tua. Perintah berbuat baik kepada orang tua, akan kita temukan di tiga belas tempat, termasuk ayat tersebut (Al-Israa: 23). Ini menunjukkan betapa pentingnya berbakti kepada orang tua, sehingga Allah berkali-kali mengingatkan dalam al-Qur’an.

Pesan Untuk Mengajarkan Perkataan yang Baik
Kerap kali saya miris, ketika dikejutkan dengan perkataan-perkataan “tidak berpendidikan” yang diucapkan seorang anak ketika bermain dengan teman sebayanya, bahkan dengan orang yang lebih tua sekalipun. Perkataan yang baik, akan membentuk pribadi yang baik, sebaliknya perkataan yang buruk akan membentuk pribadi yang buruk. Peran orang tua harus digalakkan dalam membentuk pribadi anak yang pandai berkata baik, dan “tidak mengerti” perkataan yang jelek.

Ajarkan mereka kalimat-kalimat thayyibah dalam setiap tindak-tanduk hidupnya. Ajarkan beristighfar ketika lalai, mengucap “masya Allah” ketika kagum, atau ajarkan berkata “subhanallah” ketika melihat kemungkaran. Bukan semata menjadikan mereka bersih dari perkataan kotor, tapi juga senantiasa mendatangkan pahala dalam hidup mereka. Orang yang terbiasa berkata-kata baik, akan menjadi magnet dalam lingkungannya. Ia akan didekati banyak orang, dan sedikit memiliki musuh.

Tentang ini, Allah menegaskan, bahwa perintah berkata yang baik disejajarkan perintah ketakwaan. Artinya, bertakwa kepada Allah erat kaitannya dengan berkata-kata yang baik. Dapat disimpulkan, berarti orang-orang yang perkataannya buruk dan kotor, bukanlah termasuk orang-orang yang bertakwa. “Dan hendaklah orang-orang takut jikalau di belakang haru mereka meninggalkan keturunan yang lemah, dan mencemaskan (merasa ketakutan) akan mereka. Maka bertakwalah kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisaa: 4).

Ayat tersebut memberikan kepada kita gambaran, bahwa pribadi anak yang takwa akan menghilangkan kekhawatiran kita terhadap generasi yang lemah dan penakut. Cara membangun ketakwaan itu sendiri salah satunya dapat dibangun lewat mendidik anak untuk senantiasa berkata yang baik, jujur, tidak menipu, dan benar. Berkata baik atau diam.

Pesan-pesan tersebut di atas, bukanlah sekadar pesan yang bisa dilupakan sewaktu-waktu ketika sang anak sudah beranjak dewasa. Akan tetapi, pesan-pesan tersebut jika dicamkan baik-baik oleh sang anak, akan memberikan jalan lurus bagi anak untuk menjalani hidupnya. Ketika sang anak mengalami futhur (lemah), pesan-pesan bijak tersebut dari orang tuanya, akan menjadi penamba semangat dan pelipur lara baginya.

Jadikanlah Anak Sebagai Manusia Biasa
Teringat akan nasihat Ali bin Abi Thalib r.a.: “Jadilah manusiaa paling baik di sisi Allah, (tetapi) jadilah manusia paling buruk dalam pandangan dirimu, (dan) jadilah manusia biasa di hadapan orang lain.”

Pada awalnya, Islam memandang kedudukan manusia dalam posisi yang sama. Kemudian terjadilah perbedaan derajat di mata Allah ketika manusia melakukan perbuatannya di dunia. Allah tinggikan derajat mereka yang bertakwa, Allah tinggikan derajat mereka yang menuntut ilmu, Allah tinggikan derajat mereka yang menjunjung tinggi ajaran dan sunah nabi-Nya. Sebaliknya, Allah jatuhkan mereka yang munafik, Allah jerumuskan ke neraka orang yang mempersekutukannya, Allah hinakan mereka yang enggan atau malas menuntut ilmu.

Terkadang kita lupa, dalam mendidik anak, haruslah memperhatikan kondisi dan potensi sang anak. Jangan sampai kita membebankan ekspektasi dan amanah yang berlebihan kepada anak. Jangan sampai anak merasa jenuh, merasa tidak disayang, sehingga sang anak mencari “ketenangan” di tempat lain. Khawatirnya, justru mereka mencari ketenangan di tempat-tempat maksiat, atau tempat-tempat yang dibenci Allah lainnya. Na’udzubillahi min dzalik.

Sudah semesetinya, kita menjadikan anak-anak bercita-cita untuk menjadi manusia biasa dengan segala kemanusiabiasaannya. Yaitu manusia yang sesuai dengan fitrahnya. Kita harus menjaga fitrah anak-anak agar jangan sampai menjadi manusia yang durhaka kepada orang tua dan Tuhannya. Manusia biasa adalah manusia yang bertindak sesuai dengan fitrahnya. Mereka berkata benar, berbakti kepada orang tua, dan tidak mempersekutukan Allah.

Anak yang sesuai dengan fitrahnya, akan menjadi muslim yang pemberani dan senantiasa memperjuangkan panji Islam di atas panji-panji lainnya. Secara tidak langsung, dengan medidik anak menjadi manusia biasa yang sesuai fitrahnya, berarti kita menghasilkan generasi baru yang berbudi pekerti luhur dan memperjuangkan Islam dengan segenap harta dan jiwanya.

Daftar Pustaka

Al-Qur’an al-Kariim.
Adhim, Mohammad Fauzil. Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan. Yogyakarta: Pro-U Media. 2012.
Adhim, Mohammad Fauzil. Saat Berharga Untuk Anak Kita. Yogyakarta: Pro-U Media. 2009.
Adhim, Mohammad Fauzil. Segenggam Iman Anak Kita. Yogyakarta: Pro-U Media. 2013.
Asy-Syahari, Majdi Muhammad. Pesan-Pesan Bijak Luqmanul Hakim. Depok: Gema Insani Press. 2005.
Husaini, Adian. Pendidikan Islam: Membentuk Manusia Berkarakter dan Beradab. Jakarta & Depok: Cakrawala Publishing & Adabi Press. 2012.
Nugroho, Eko Novianto. Menjadi Laki-Laki. Depok: Gema Insani Press. 2013

Sumber: Pendidikan Anak Islami: Mendidik Anak Menjadi Manusia Biasa

10 Rahasia Agar Dicintai Allah

Setiap hamba pasti menginginkan untuk dicintai oleh Rabbnya. Sebagai seorang hamba tentunya kita ingin menapaki tingkatan dari yang mencintai Allah menjadi yang dicintai Allah. Lalu bagaimanakah agar kita bisa menjadi hamba yang dicintai oleh Allah?

1. Mentadabburi Al-Quran dan Mengamalkannya

Untuk menapaki cinta kepada Allah adalah membaca Al-Quran dengan khusyuk, disertai perenungan mendalam terhadap makna-makna yang terkandung di dalamnya dengan menghadirkan kesadarannya secara total bahwa kita sedang bermunajat kepada Allah. Inilah rahasia menuju cinta kepada Allah.

Setelah memahami makna-makna Al-Quran, maka kita harus mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari dan mengajarkannya kepada orang lain. Hidup dengan mempraktikkan pedoman dalam Al-Quran akan membuat hidup kita bermakna, karena selalu menapaki jalan kebajikan. Seperti yang telah diriwayatkan oleh Usman bin Affan bahwa Rasulullah bersabda “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya”.

2. Mendekatkan Diri kepada Allah dengan Amalan-amalan Sunnah

Ada dua golongan dari seorang hamba Allah yang beruntung. Pertama, yang mencintai Allah yaitu yang menjalankan amalan-amalan wajib. Kedua, yang dicintai Allah yaitu jika kita melakukan amalan-amalan sunnah setelah tuntas amalan wajib. Golongan inilah yang disebut Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah dengan “Kualitas diri yang sampai kepada kualitas yang dicintai Allah setingkat lebih tinggi setelah mencintai Allah”. Jika kita telah menuntaskan amalan wajib dan menambahnya dengan amalan sunnah maka kualitas diri kita meningkat menjadi “Yang dicintai Allah.”

3. Mengingat Allah di dalam Hati, Lisan, dan Tindakan Sehari-hari

Mengingat Allah adalah kesadaran diri akan Allah, baik hati, ucapan, maupun tindakan. Apabila kita mengingat Allah maka seorang hamba akan mendapatkan ampunan dan ridha-Nya. Allah berfirman “..Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS Al-Ahzab: 35). Jadi dengan mengingat Allah hidup menjadi lurus dan selaras dalam kebaikan. Mengingat Allah dalam hati, lisan, dan perbuatan adalah bekal untuk masuk surga dan menapaki tingkatan-tingkatan di dalamnya.

4. Cinta kepada Allah membawa Cinta Kepada Seluruh Makhluk-Nya

Ridha kepada Allah membawa diri kita pada ridha selain-Nya, maksudnya diri kita merasa ridha bahwa apa pun yang ada di alam semesta ini di bawah ketentuan Allah. Inilah ketentraman jiwa yang diperoleh dari keridhaan kepada-Nya. Ketentraman inilah yang dimilki oleh orang yang beriman dengan ridha kepada-Nya.

5. Merenungkan Nama-nama dan Sifat-sifat Allah serta Berma’rifat terhadapNya

Hamba yang beriman adalah orang yang mengenal Allah melalui nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Kemudian dia membenarkan Allah dalam pergaulannya sehari-hari, ikhlas niat dan tujuannya, serta tidak berperilaku melainkan dengan budi pekerti yang luhur.

Hamba yang mengimani sifat-sifat Allah dan kesadaran diri akan kesempurnan-Nya adalah pembangkit bagi hati untuk cinta kepada-Nya. Hati pasti akan selalu cinta kepada yang dikenalnya dan terus rindu untuk selalu bersama-Nya.

6. Menyadari Kebaikan Allah dan Segala Kenikmatan dariNya

Sebagai hamba senantiasa diliputi oleh segala kebaikan dari Allah. Segala kenikmatan, kasih sayang, dan segala hak dapat memenuhi perasaannya. Tidak ada yang memberikan kenikmatan dan kebahagiaan di dunia ini kepada kita selain Allah. Semua yang ada di alam semesta ini, pasti semuanya dariNya. Dengan demikian, tidak ada yang layak untuk dicintai dengan segala ketulusan selain Allah.

7. Menyerahkan Diri Sepenuhnya Hanya kepada Allah

Maksud menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah adalah kekhusyukan hati, penyerahan diri sepenuhnya, kesadaran diri sangat butuh kepada-Nya, dan menjaga etika menghamba kepada-Nya. Semua definisi tersebut menunjukkan bahwa hati adalah sumber dari praktik khusyuk yang kemudian mendisiplinkan tubuh.

8. Bermunajat kepada Allah di Tengah Malam

Allah memberikan sanjungan bagi siapa saja yang lambungnya jauh dari tempat tidur untuk berdoa dan bermunajat kepada Allah. Kita mendirikan shalat malam di mana shalat tersebut adalah seutama-utama shalat sunnah. Inilah praktik yang meningkatkan kualitas cinta kita kepada Allah. Kita bangun malam dan mendirikan shalat ketika orang-orang sedang terlelap tidur.

9. Bersahabat dengan Para Pecinta Allah

Disnilah Ibnu Al-Qayyim menjadikan interaksi dengan para pecinta Allah sebagai keniscayaan menuju cinta kepada Allah. Rasulullah bersabda “Allah berfirman, Cintaku menjadi keniscayaan bagi orang-orang yang mencintai-Ku. Cintaku menjadi keniscayaan bagi orang-orang yang mencintai-Ku. Cintaku menjadi keniscayaan bagi orang-orang yang mengunjungi-Ku.” (Hr. Ahmad).

Sesungguhnya cinta seorang muslim kepada saudaranya karena Allah adalah buah dari ketulusan iman dan budi pekerti yang luhur. Cinta tersebut dijaga oleh Allah dalam hati seorang hamba yang beriman, sehingga keimanan tersebut tidak melenceng ataupun melemah.

10. Menjauhi Segala Hal yang Dapat Melalaikan Hati

Jika kita ingin mencintai Allah, maka tidak ada pilihan bagi kita untuk senantiasa menjaga hati agar tetap bersih. Oleh karena itu mari menjaga hati dari segala sesuatu yang dapat melalaikan hati dengan senantiasa mengawasi dan membersihkan hati dari penyakit yang dapat membuatnya kotor.

Hati yang bersih adalah hati yang senantiasa menyadari bahwa Allah itu benar adanya, hari kiamat pasti kedatangannya, dan Allah pasti membangkitkan manusia dari kuburnya. Hati yang bersih adalah hati yang sehat. Sehatnya hati karena menaati perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga kita termasuk hamba yang memiliki hati yang bersih.

Semoga kita dapat menjadi hamba yang memiliki kedudukan yang mulia di hadapan-Nya. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu agar menuntun kami dapat senantiasa berada dalam jalan yang lurus, menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Mu, mengenal-Mu, dan mentauhidkan-Mu. Anugerahkanlah kepada kami cinta-Mu dan cinta orang-orang yang mencintaimu, dan cinta untuk meningkatkan kualitas diri yang dapat mengantarkan kami kepada cinta-Mu. Aamiin

Mau Tahu Amalan yang Paling Dicintai oleh Allah?

Ketika kita mengerjakan shalat fardhu (Subuh, Zhuhur, Ashar, Maghrib, & Isya), ternyata kita bisa mendapatkan suatu amalan yang paling dicintai oleh Allah SWT dibanding dengan amalan-amalan lain. Bayangkan amalan ini lebih dicintai oleh Allah SWT dibanding dengan Berjihad dijalan Allah dan Berbakti kepada orang tua. Subhanallah bukan?

Ya, amalan ini memang gampang-gampang sulit, tetapi ketika kita benar-benar bertekad dan meluruskan niat, insya Allah amalan yang satu ini sangat mudah dilaksanakan.

Ketika berbicara tentang waktu shalat, memang terkadang kita menganggap itu adalah sesuatu yang biasa-biasa saja, tetapi ternyata amalan yang kita bicarakan di atas adalah Shalat di awal waktu, seperti yang tertera dalam hadits nabi di bawah ini,

Abdullah (bin Mas’ud) RA berkata, “Saya bertanya kepada Nabi, ‘Apakah amal yang paling dicintai oleh Allah?’ (Dalam satu riwayat: yang lebih utama) Beliau bersabda, ‘Shalat pada waktunya’ Saya bertanya, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau bersabda, ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Saya bertanya, ‘Kemudian apa lagi’? Beliau bersabda, ‘Jihad (berjuang) di jalan Allah.”‘ Ia berkata, “Beliau menceritakan kepadaku. (Dalam satu riwayat: “Saya berdiam diri dari Rasulullah.”) Seandainya saya meminta tambah, niscaya beliau menambahkannya.” (H.R. Bukhari, hadits Shahih dan terdapat di dalam Shahih Bukhari)

Kita mengetahui bahwa jihad di jalan Allah SWT[1] dan berbakti kepada orang tua jaminannya surga[2], maka bagaimana dengan Shalat di awal waktu yang statusnya itu adalah amalan yang paling dicintai Allah? Wah masalah balasan yang akan kita terima nanti itu hak Allah yang akan memberikan.

Setelah kita mengetahui semua ini, maka mulai saat ini juga, marilah kita berusaha untuk shalat di awal waktu. Shalat di awal waktu dan di akhir waktu lamanya waktu kita shalat gak bedanya kan? Dan juga biasanya kalau shalat di akhir waktu, biasanya kita sering kebablasan, atau terlupa. Untuk menghindari itu, maka shalatlah di awal waktu. Tidak ada ruginya bukan ketika kita shalat di awal waktu?

Semoga dengan melakukan amalan-amalan yang dicintai oleh Allah SWT, kita bukan hanya mendapatkan ganjaran yang sangat besar tetapi juga Cinta dari Allah SWT.

Karena ketika kita menjadi kekasih Allah SWT, insya Allah kita akan selalu dijaga oleh-Nya (bayangkan, yang menjaga kita adalah zat yang menguasai alam ini), lalu apa yang kita minta pasti akan dikabulkan (betapa nikmatnya bukan?). Maka bersungguh-sungguhlah dalam meraih cinta Allah SWT dengan melakukan amalan-amalan yang dicintainya.

Wallahu a’lam Bishshawab.

Catatan kaki:

[1] Rasulullah Saw ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau lalu menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.” (HR. Ibnu Majah)

[2] Kedua kaki hambaKu yang dilibat debu dalam perang fisabilillah tidak akan tersentuh api neraka. (HR. Bukhari)

Sumber : Mau Tahu Amalan Yang Paling Dicintai Alllah?

Konsep Menanti Jodoh (Insya Allah)

Catatan ini bukan cerita bagaimana teori perjodohan Rasulullah dengan Khadijah, Ali dengan Fatimah, atau kisah terkini antara Abdullah Khoirul Azzam dengan Anna Althafunnisa dalam serial Ketika Cinta Bertasbih. Ini hanya teori ringan berupa beberapa konsep yang harus dibuktikan sebagai analisa bersama di zaman sekarang. Berikut konsepnya:

 

  1. Konsep tawakal

 

–  إنما المؤمنون الذين إذا ذكر الله وجلت قلوبهم وإذا تليت عليهم آياته زادتهم إيمانا وعلى ربهم يتوكلون ( 2 ) الذين يقيمون الصلاة ومما رزقناهم ينفقون ( 3 ) أولئك هم المؤمنون حقا لهم درجات عند ربهم ومغفرة ورزق كريم  (4)

 

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman [1] ialah mereka yang bila disebut nama Allah [2] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.”

 

Berangkat dari ayat di atas bahwa tawakal juga harus di iringi dengan ibadah seperti shalat dan berbagi kepada yang membutuhkan agar kelak mendapat rizki yang mulia di sisi Allah. Tawakal atau berserah diri setelah semua upaya di usahakan itulah esensi dari arti kata tawakal sesungguhnya.

 

– ……..ومن يتق الله يجعل له مخرجًا(2) ويرزقه من حيث لا يحتسب ومن يتوكل على الله فهو حسبه……(3)

 

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”

 

Oleh karenanya bagi rekan-rekan yang dalam masa penantian hendaknya memahami konsep pertama ini sebagai langkah awal menuju proses selanjutnya. Bagaimana, mudah kan…!

 

  1. Konsep penyembahan

 

إياك نعبد وإياك نستعين-

“Hanya Engkaulah yang kami sembah [3], dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan [4].” (QS. Al-Faatihah: 5)

 

………..…… لن تنالوا البر حتى تنفقوا مما تحبون

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu

menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai…” (QS. Ali ‘Imran: 92)

 

– وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كُنْتُ خَلْفَ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم يَوْمًا فَقَالَ: يَا غُلَامُ! اِحْفَظِ اَللَّهَ يَحْفَظْكَ اِحْفَظِ اَللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ وَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اَللَّهَ وَإِذَا اِسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاَللَّهِ رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَسَنٌ صَحِيحٌ

 

Ibnu Abbas RA berkata: Aku pernah di belakang Rasulullah SAW pada suatu hari dan beliau bersabda:

 

“Wahai anak muda peliharalah (ajaran) Allah niscaya Dia akan memelihara engkau dan peliharalah (ajaran) Allah niscaya engkau akan mendapatkan-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta sesuatu mintalah kepada Allah dan jika engkau meminta pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah.” [5]

 

Dalam konsep ke-2 ini tentunya memerlukan beberapa perangkat dalam melakukan segala jenis ibadah yang harus dilakukan dengan konsisten dan sabar.  Mari kita perhatikan surat Hud juz 12 di bawah ini:

 

– ( فاستقم كما أمرت ومن تاب معك ولا تطغوا إنه بما تعملون بصير ( 112 ) ولا تركنوا إلى الذين ظلموا فتمسكم النار وما لكم من دون الله من أولياء ثم لا تنصرون ( 113 ) ( وأقم الصلاة طرفي النهار وزلفا من الليل إن الحسنات يذهبن السيئات ذلك ذكرى للذاكرين ( 114 ) واصبر فإن الله لا يضيع أجر المحسنين ( 115 )

 

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zhalim [6] yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan. Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Pesan dari ayat yang agung di atas di antaranya, mari kita perhatikan:

 

  • فاستقم  = Perintah untuk konsisten dalam kebaikan
  • ولا تركنوا إلى الذين ظلموا = Menjaga pergaulan
  • وأقم الصلاة = Perintah menjaga Shalat
  • إن الحسنات يذهبن السيئات = Hendaknya perbuatan buruk (dosa-dosa kecil) kita di iringi dengan kebaikan agar terhapus kecuali dosa besar via bertaubat
  • واصبر = Dan  perintah bersabar.

Perangkat dari konsep ke-2:

  • Menyembah hanya kepada Allah.
  • Meminta segala sesuatunya juga kepada Allah
  • Belajar berbagi untuk menjadi pribadi yang taat
  • Dan kesimpulan yang ada dari surat Hud di atas.

Teruntuk para penanti jodoh hendaknya juga memperhatikan pesan-pesan tersirat dari ayat-ayat Qur’an dan hadits nabi pada konsep ke-1 dan ke-2. Sekarang kita beralih ke konsep selanjutnya.

 

  1. Konsep amal shalih dan Iman

– من عمل صالحا من ذكر أو أنثى و هو مؤمن فلنحيينه حياة طيبة…….

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” [7]

Dari surat An Nahl ayat 97 juz 14 di atas, mari kita perhatikan sejenak kalimat “فلنحيينه” falanuhyiyannahu (maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya) , di sini Allah ta’ala menggunakan huruf ‘’Lam taukid” setelah huruf “Fa” dan “Nun tasydid” sebelum huruf ‘’Ha besar” di akhir.

 

Dalam kaidah bahasa Arab huruf Lam taukid (berharakat fathah) dan Nun Tasydid (dibaca dengan ghunnah/berdengung 2 harakat) yang di gabungkan dalam satu kalimat itu mempunyai arti:

  • Penguat makna.
  • Penekanan lebih bersifat jaminan, menguji secara pasti dan lainnya (sifatnya tergantung teks Qur’an)
  • Bisa juga pengeras arti tergantung dari ayat sebelum dan sesudahnya.

Contoh berupa jaminan pasti:

 

Ada di Surat An Nahl ayat 97 juz 14  pada kalimat “فلنحيينه” falanuhyiyannahu, adapun konteksnya Allah ta’ala akan menjamin mereka (ikhwan dan akhwat) yang punya kecenderungan pada kebaikan dengan kehidupan yang layak, tapi dengan satu sarat yaitu ”percaya akan adanya satu Tuhan (Allah) tanpa menyekutukan-Nya’.

Adapun berupa ujian yang juga bersifat pasti:

 

ولنبلونكم بشيء من الخوف والجوع ونقص من الأموال والأنفس والثمرات  ……………………………

 

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan…” (QS. Al Baqarah: 155)

Mari kita perhatikan kalimat ولنبلونكم  “wa lanabluwannakum” (Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu). Artinya Allah hendak menegaskan bahwa akan ada pelbagai ujian yang bersifat pasti karenanya pula dipakailah huruf “Lam taukid dan Nun tasydid” sebagai bentuk keilmuan bagi orang-orang yang beriman agar

bersiap-siap akan ujian dari-Nya, di antaranya :

 

  • Rasa Takut yang kadang menghampiri
  • Rasa lapar yang pernah dirasakan
  • kondisi ekonomi menjadi kurang mengizinkan
  • kehilangan sanak saudara atau orang-orang terkasih
  • dan juga kekurangan akan buah-buahan (Makanan)

Kalaupun kita dapati tidak dengan Nun tasydid misalnya di surat Yusuf ayat 32 juz 12:

….ولئن لم يفعل ماء آمره ليسجنن وليكونا من الصاغرين.-

“…Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina.”

 

Kalimat pertama “ليسجنن” “layusjananna” (niscaya dia akan dipenjarakan) dengan lam taukid di awal dan nun tasydid di akhir, artinya memang betul Istri Al-Aziz atau yang lebih dikenal di kalangan masyarakat luas sebagai Zulaikha, Zalikha atau Rahil, walaupun riwayat tentang nama sebenarnya tidak ada yang bisa di pertanggungjawabkan karena semuanya lemah. Bahwasanya dia hendak memenjarakan Yusuf jika tidak menuruti aturannya.

 

Tapi kalimat setelahnya justru berbeda, mari kita perhatikan ” وليكونا” “wa layakuunaa” (dan dia akan termasuk/menjadi) menggunakan huruf Nun Khofifah dan dibaca panjang  2 harakat yang bermakna: “Penekanannya lebih ringan ketimbang dengan nun tasydid”,

 

artinya:

Maksud Istri Al-Aziz kepada Yusuf sejatinya bertentangan dengan hati nuraninya atau tidak sepenuh hati. Karena bagaimana mungkin dia melihat orang yang sangat di cintainya hingga di mabuk asmara karena ketampanannya menjadi orang yang terhina. Tentunya kita pun demikian tidak mungkin melihat orang yang kita cintai menderita. (Studi Normatif)

 

Sebenarnya apa yang dilakukan Istri Al Aziz kepada sang pujaan hati Yusuf adalah Salting (Salah tingkah) Istilah zaman sekarang karena cintanya yang berlebihan atau lebai (kata anak muda di zaman ini).

 

Kesimpulan konsep ke-3:

Almarhum Syeikh Tantowi (mantan Syeikh Al-Azhar Mesir) pernah mengatakan kalau ayat dari Surat An Nahl di atas merupakan ganjaran di dunia bagi orang-orang baik lagi beriman kepada Allah yaitu “kehidupan yang layak”. [8]

Para ulama sendiri mengartikan kehidupan yang layak ini beragam:

  • Dijadikan pemegang kepentingan.
  • Dimantapkan agamanya
  • Diberikan rasa nyaman dalam hidup
  • Pekerjaan yang cocok.
  • Keluasan rizki yang baik
  • Kemudahan demi kemudahan.
  • Juga jodoh yang di idamkan dan masih banyak lagi.

Jadi….. bagi para penanti jodoh hendaknya mengamalkan ayat di atas sebelum kita melanjut ke konsep berikutnya. Semoga….

 

  1. Konsep Cinta

 

Cinta adalah anugerah Allah yang bisa mengantarkan manusia kepada kebahagiaan, para pakar Cinta sendiri mempunyai banyak definisi tentangnya dan saling berbeda tapi yang bisa disepakati adalah Cinta mendorong untuk melakukan hal-hal positif, karya-karya besar dan menjadikan hidup lebih hidup.

 

Cinta bisa menghilangkan rasa sakit, mendorong untuk segera sembuh, cinta juga bisa menggeser segala jenis rintangan, halangan, gesekan, ujian, cobaan, kesedihan, kegalauan, kesulitan dan benda-benda mati lainnya, karena hakikat cinta adalah benda hidup yang senantiasa menghiasi hari-hari pecinta sejati. Maka teruslah hidup dengan benda hidup (Cinta).

 

Cinta bukanlah pemaksaan kehendak dan bukan juga cinta siapa yang memaksakan kehendak, melainkan cinta adalah sebuah dialog antara dua insan yang harus di perjuangkan dengan rahmat dan ridha dari sang pemilik cinta yaitu Allah. Cinta itu bermacam-macam : ada cinta kepada Allah dan rasul-Nya, kepada agama, Negara, Manusia, materi, lingkungan, hobi dan banyak lagi, bukti kita cinta kepada Allah yaitu patuh dan taat pada perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.

Cinta berawal dari pengenalan atau ta’aruf, setelah itu timbul rasa, lalu tanggung jawab dan yang terakhir adalah kesetiaan, bukan cinta namanya bagi yang tidak mengenal dan juga yang tidak setia kepada pasangan. Cinta atau Mawaddah adalah mengosongkan hati dari segala kekurangan terhadap pasangannya, saling mengerti dan melengkapi, karena jika Cinta, segala kekurangan yang ada pada kekasihnya itu terlihat normatif, sehingga betapapun  buruk yang di cintainya akan menjadi terlihat baik karena cinta dan itulah arti sejati dari Mawaddah. (Khusus yang sudah menikah)

 

Oleh karenanya bagi para penjalin cinta kasih (Suami-Istri) hendaknyalah memperjuangkan cinta, jaga cintanya agar tetap bersemi menghiasi isi hati, sedangkan bagi para penanti jodoh hendaknya bersabar akan jaminan dari Allah berupa kehidupan yang layak di dunia seperti yang tersirat pada surat An Nahl ayat 97 juz 14.

 

Inilah rangkaian singkat dari arti cinta, oleh karenanya wajib bagi kita untuk memahami lebih dalam akan arti cinta sebelum kita melanjut ke Konsep jodoh yang terakhir.

 

  1. Konsep mencari sebab

Ajaran Islam bukan saja mengedepankan sisi “Spiritualitas” tapi juga ada sisi lain yang penting diperhatikan yaitu “Rasionalitas” dari sinilah banyak ilmuwan barat ramai memeluk ajaran Islam karena ajarannya yang rasional.

 

Kalaulah kita hanya berpegang pada sisi spiritualitas saja tentu bisa menggambarkan Islam di mata dunia sebagai ajaran khurafat atau takhayul. Adapun jika pada sisi rasionalitas saja tentunya ajaran ini tak ubahnya sama seperti ajaran Paganisme  (penyembah berhala).

 

Beberapa contoh rasionalitas dalam Islam (Mengambil sebab):

  1. Pembuatan bahtera nabi Nuh sebagai penangkal dari musibah banjir besar.

…………..واصنع الفلك بأعيننا ووحينا

“Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami…” (QS. Hud: 37).

 

  1. Proses mendapatkan makanan seorang Maryam

هزي إليك بجذع النخلة تساقط عليك رطبا جنيا

“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu,” (QS. Maryam: 25)

 

  1. Proses penyembuhan atas Wahyu dari Allah kepada nabi Ayyub.

اركض برجلك هذا مغتسل بارد و شراب

“(Allah berfirman): “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.” (QS. As Shaad: 42)

 

Adapun mengambil sebab menanti jodoh, berikut uraiannya:

  1. Selipkanlah doa ini dalam sujud sebagai wujud dari Ibad Rahman (hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang).

(74)……………….ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما ………… –   

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.”  (QS. Al Furqan: 74).

 

  1. Mulai melakukan proses pencarian belahan jiwa, adapun dicarikan melalui bantuan orang lain hukumnya sah-sah saja.

 

  1. Menikahlah dengan orang yang dicintai (laki-laki dan perempuan), atau bisa juga mencintai orang yang menikahi (khusus untuk perempuan).

 

  1. Menikah bukan hanya dengan orang yang dicintai, melainkan berkomunikasi dengan keluarga besar pasangan yang juga baik, karena ini adalah porsi ideal dari kebahagiaan menikah sebagaimana petunjuk Rasul untuk melihat garis keturunan yang baik, adapun jika kita belum mampu mengikuti anjuran tersebut hukumnya tidak mengapa, karena bisa jadi orangtua pasangan kurang sholeh tetapi anaknya sholeh, jika sudah kepalang cinta alias cinta medok. (Opsi ideal lebih ditekankan)

 

  1. Jika sudah merasa mampu dan mendapatkan jodoh yang di idamkan, segeralah menatap langit dengan penuh pengharapan sambil bergerak maju dengan badan tegap sambil melangkah untuk segera melamar sang gadis atau janda (gadis lebih di anjurkan karena keutamaannya) dengan mengucap “Bismillah”

 

  1. Adapun untuk para akhwat hendaknya bersabar dan terus memperbaiki diri sambil berusaha dan berdoa agar pangeran berkuda putih segera datang menjemput Anda.

 

  1. Semoga berhasil kawan…

___

Catatan kaki:

[1]. Maksudnya: orang yang sempurna imannya.

[2] Dimaksud dengan disebut nama Allah ialah: menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakanNya.

[3] Na’budu diambil dari kata ‘ibaadat: kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, karena berkeyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya.

[4] Nasta’iin (minta pertolongan), terambil dari kata isti’aanah: mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri.

[5] Riwayat Tirmidzi. Ia berkata: Hadits ini shahih.

[6]. Cenderung kepada orang yang zhalim maksudnya menggauli mereka serta meridhai perbuatannya. Akan tetapi jika bergaul dengan mereka tanpa meridhai perbuatannya dengan maksud agar mereka kembali kepada kebenaran atau memelihara diri, maka dibolehkan.

[7]. Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman.

[8] Kajian rutin Tafsir Al Wasith setiap Jum’at siang di Masjid-Islamic Mission City-Kairo.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/02/15/18272/konsep-menanti-jodoh-insya-allah/#ixzz3D6v7wp8a
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook